Ternyata apa yang kita namakan dengan mata uang sekarang ini Dollar,
Yen, Rupiah, Poundsterling, Euro dan sebagainya pada hakikatnya hanya
selembar kertas biasa (dan yang berbentuk koin juga koin biasa yang tak
ada harganya) yang hanya menjadi "uang" karena adanya jaminan dari bank.
Bank sendiri berani menjamin mata uang yang tak berharga tersebut
karena memiliki cadangan devisa berupa emas dan perak.
Emas dan
perak inilah yang sampai saat ini terus berupaya direbut dan ditimbun
oleh Konspirasi Internasional dari tangan seluruh warga dunia, agar emas
dan perak seluruh dunia berada di tangan mereka dan di tangan yang
tidak tahu hanyalah selembar kertas tidak berharga yang dipakai sebagai
alat transaksi. Keadaan ini akan sangat menguntungkan kaum Konspirasi
Internasional yang bisa seenaknya memainkan nilai tukar mata uang
tersebut sehingga masyarakat banyak bisa dikendalikan dengan mudah.
Lantas, apa sebenarnya beda emas dan perak dengan mata uang-mata uang
negara-negara dunia yang sekarang dicetak dari selembar kertas biasa?
Hebatnya Emas dan Perak
Berabad-abad
silam, emas dan perak telah menjadi logam mulia yang diagungkan oleh
banyak manusia. Bahkan emas dan perak, juga batu permata, telah
dipergunakan oleh raja-raja, para sultan, para diktator, tiran sebagai
bahan dasar pembuatan mahkota mereka.
Dua logam mulia tersebut
diciptakan bukan hanya sebagai alat pengukur nilai atau untuk menyimpan
kekayaan (investasi), tetapi juga sebagai alat tukar (medium of
exchange). Karena tingginya kedudukan emas dan perak inilah maka banyak
kalangan menganggap kedua logam mulia tersebut sebagai Heaven’s Currency
(Mata uang surga).
"Masyarakat kuno sudah menggunakan emas,
perak, dan tembaga untuk transaksi ekonomi. Emas dan perak dipilih
karena kelangkaan (rarity) dan warnanya yang indah. Dalam sejarah
manusia, tak lebih dari 160.000 ton emas yang ditambang dari perut bumi.
Sementara perak dan tembaga untuk memenuhi transaksi dengan nilai yang
lebih rendah dari emas."
Dunia modern mengklasifikasikan
logam-logam mulia tersebut dalam kolom yang sama. Tabel Periodik
menempatkan emas, perak, dan tembaga (dengan simbol masing-masing Au,
Ag, dan Cu) dalam kelompok yang sama yakni Golongan 11. Berbeda dengan
kebanyakan logam lainnya, emas memiliki sifat yang sangat istimewa.
Emas
dan Perak tidak bisa diubah dengan bahan kimia apa pun. Archimedes
(300 SM) membuktikan bahwa emas bisa dideteksi tanpa merusak dan hanya
dengan menggunakan air tawar biasa. Karena bukan termasuk logam yang
aktif maka emas tidak terpengaruh oleh air dan udara. Tidak seperti besi
atau logam lainnya, emas tidak bisa berkarat.
Selain itu, emas juga termasuk logam yang sangat lunak. Bisa ditempa
menjadi lempengan yang super tipis dan bisa juga ditempa menjadi kawat
dengan ketebalan super mini. Bayangkan saja, satu ons emas bisa ditempa
dengan luas seukuran 100 kaki persegi atau dibuat kawat sepanjang 50
mil.
Sementara emas juga dikenal sebagai logam mulia paling
berat. Satu kaki kubik emas beratnya mencapai lebih dari setengah ton.
Itulah sebabnya mengapa dalam sejarah manusia tidak pernah ada pencurian
emas dalam skala besar karena untuk itu diperlukan alat berat untuk
mengangkatnya.
Dalam sejarah manusia, penambangan emas dunia dari
tahun ke tahun hanya mengalami kenaikan dua persen tiap tahunnya. Dalam
setahun seluruh industri tambang emas dunia menghasilkan kira-kira
2.000 ton emas. Bandingkan dengan produksi baja AS sejak 1995 seperti
yang dirilis Iron and Steel Institute yang bermarkas di Washington DC
yang mencapai 10.500 ton perjamnya. Sebab itu, emas sungguh-sungguh
logam yang sangat langka dan sangat stabil nilainya sejak awal sejarah
manusia hingga kini.
Penggunaan emas dan perak sebagai mata uang
sejati sesungguhnya telah dipergunakan berabad-abad yang lalu. Koin emas
dalam sejarah dibuat pertama kalinya pada masa Raja Croesus dari Lydia,
sebuah kerajaan kuno yang terletak di barat Anatolia, sekitar tahun 560
SM.
Sementara koin perak dibuat lebih dulu lagi yakni 140 tahun
sebelum koin emas pertama dibuat, yaitu pada 700 SM, pada masa Raja
Pheidon dari Argos, Yunani. Koin emas telah dipergunakan sebagai alat
tukar di masa Kerajaan Romawi. Kaisar Julius Caesar mengenalkan aureus
(berasal dari kata ‘aurum’ yang memiliki arti sebagai emas) sebagai
standar penukaran di kerajaannya. Karena nilainya yang besar, aureus ini
hanya dipergunakan sebagai alat pembayar utang. Aureus dibuat dari 99%
emas murni dengan berat 8 gram. Namun ketika Nero menjabat sebagai
kaisar, maka beratnya diturunkan menjadi 7,7 gram.
Bermula Dari Romawi dan Persia
Dinar
dan Dirham dikenal oleh orang Arab jauh sebelum Uang kertas datang.
Dalam aktivitas perdagangannya, para pedagang Arab ini berinteraksi
dengan banyak bangsa. Saat pulang dari Syam, mereka membawa Dinar emas
Romawi (Byzantium), dan yang pulang dari Iraq, mereka membawa Dirham
perak Persia (Sassanid). Sering pula mereka membawa Dirham Himyar dari
Yaman.
Fakta ini terus berlanjut sepanjang sejarah hingga
beberapa saat menjelang Perang Dunia I, ketika dunia menghentikan
penggunaan emas dan perak sebagai mata uang. Penggunaan mata uang emas
dan perak ini kian lama kian susut. Dan berakhir ketika Kekhalifahan
Turki Utsmaniyah runtuh pada tahun 1924.
Monday, 15 September 2014
Pendapatan Norman Kamaru Jadi Tukang Bubur Ternyata Menggiurkan
Memang ada yang menyatakan bahwa Norman salah jalan, sehingga tidak sedikit yang memandang sinis dengan umpatan yang beraneka rasa. “Gagal jadi artis, Norman jualan bubur untuk sambung hidup”, sebuah judul berita yang pernah ada di salah satu media.
Tapi tahukah Anda berapa keuntungan Norman dari jualan bubur? Hal inilah yang perlu dilihat, karena kebanyakan kita lebih kepada tampilan saja, padahal belum tentu tempilan bagus sehingga bagus juga isi dompetnya.
Dari hasil penelusuran Silontong, Sabtu (13/9/14) menemukan laporan bahwa pendapatan Norman dari jualan bubur cukup menggiurkan.
Diakui mantan anggota Brimob Polda Gorontalo itu, penghasilan yang didapatnya dari berjualan bubur dan makanan Manado relatif lumayan per harinya.
“Alhamdulillah, kalau kita hitung-hitung acak, 500 ribu rupiah sehari dikali 30 hari berapa? Itu contoh saja (pendapatan dari berjualan bubur),” ucap Norman saat ditemui di Studio Hanggar, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (11/9/2014) malam, dilansir liputan6.
Keuntungan lain yang didapat Norman dari idenya berjualan bubur, yakni bisa menambah jumlah langganan yang menyukai masakan khas Manado.
“Sejauh ini sih yang datang (ke kedai) lumayan yah, biasanya mereka juga suka pesan masakan Manado juga, suka minta dibuatkan masakan ini itu, jadi banyak kenal orang juga,” tegas Norman.
Membuka kedai makanan tak hanya dimanfaatkan Norman untuk meraup keuntungan semata. “Tapi juga menyalurkan hobi, karena sejak aku jadi polisi dulu, aku sudah terbiasa masak sendiri. Kalau sedang di rumah pun aku masak,” tutup bapak dua anak ini.
Mungkin saja Norman Kamaru terinspirasi dari judul film sinetron “Tukang Bubur Naik Haji”. Jika saat ini kita lihat Norman jualan bubur, mungkin ini cikal bakalnya juga untuk naik haji. Amin. (sumber: silontong.com)
Wednesday, 10 September 2014
7 Mitos Penentu Pergerakan Harga Emas
Pendiri konglomerasi multinasional
Rothschild, NM Rothschild, pernah menyiratkan bahwa tak seorang pun bisa
memahami harga Emas. Mantan Gubernur The Fed, Ben Bernanke, pun pernah
menyuarakan pendapat yang sama. Namun kini, banyak orang mengabaikan pendapat
mereka dan setiap hari berusaha menebak arah pergerakan harga Emas. Tahun ini,
orang-orang itu telah dikejutkan oleh pergerakan harga Emas yang asalnya
diperkirakan akan semakin anjlok, ternyata malah menampilkan performa lebih
baik ketimbang aset investasi lain.
Apa sebenarnya yang menentukan pergerakan harga Emas di masa depan? Berikut ini tujuh faktor kunci yang "katanya" menggerakkan harga logam mulia ini, dan seberapa penting faktor tersebut secara historis.
Apa sebenarnya yang menentukan pergerakan harga Emas di masa depan? Berikut ini tujuh faktor kunci yang "katanya" menggerakkan harga logam mulia ini, dan seberapa penting faktor tersebut secara historis.
1.
Inflasi
Harga Emas naik 18 kali lipat di
tahun 70an saat inflasi melesat ke puncak tertinggi yang pernah dialami
di masa damai tanpa perang. Dalam dua puluh tahun berikutnya, walaupun inflasi
merosot, tetapi harga Emas terus meningkat. Studi mengenai korelasi 12-bulanan
antara harga Emas dan indeks IHK Amerika Serikat dalam 45 tahun terakhir
menunjukkan angka 0, yang berarti bahwa: tidak ada hubungan antara harga
Emas dan inflasi.
2.
Tingkat Suku Bunga
Karena logam mulia tidak memberikan
imbal hasil dalam bentuk bunga, maka siapapun yang membelinya
"kehilangan" pendapatan bunga yang mungkin akan didapat kalau uangnya
didepositokan. Hal ini disebut sebagai "opportunity cost" dari
memiliki logam mulia, dan "opportunity" cost" ini jumlahnya
semakin besar ketika suku bunga tinggi.
Namun, walau suku bunga tinggi membuat Emas jadi tidak menarik, sebenarnya tidak ada hubungan yang jelas antara harga Emas dan suku bunga. Fakta sejarah menunjukkan bahwa harga Emas dan suku bunga bergerak ke arah berlawanan hanya kadang-kadang; keduanya malah lebih sering naik atau turun bersamaan.
Namun, walau suku bunga tinggi membuat Emas jadi tidak menarik, sebenarnya tidak ada hubungan yang jelas antara harga Emas dan suku bunga. Fakta sejarah menunjukkan bahwa harga Emas dan suku bunga bergerak ke arah berlawanan hanya kadang-kadang; keduanya malah lebih sering naik atau turun bersamaan.
3.
Pasar Saham
Sebagaimana hubungannya dengan
tingkat suku bunga, harga Emas juga hanya kadang-kadang saja bergerak ke arah
yang berlawanan dengan pasar saham. Studi akan korelasi 12-bulanan antara harga
Emas dan indeks S&P 500 selama 45 tahun terakhir menghasilkan angka
rata-rata 0, yang lagi-lagi berarti: tidak ada hubungan antara harga Emas
dan Pasar Saham.
Mengapa begitu? karena banyak investor memanfaatkan bahan baku industri perhiasan ini sebagai pelengkap portofolio investasi mereka. Investor tentunya menginginkan portofolio investasi yang berimbang, dimana faktor risk/reward-nya terjaga. Oleh karena itu, mereka akan cenderung mempertahankan berbagai aset berbeda dalam portofolio-nya dalam waktu bersamaan.
Mengapa begitu? karena banyak investor memanfaatkan bahan baku industri perhiasan ini sebagai pelengkap portofolio investasi mereka. Investor tentunya menginginkan portofolio investasi yang berimbang, dimana faktor risk/reward-nya terjaga. Oleh karena itu, mereka akan cenderung mempertahankan berbagai aset berbeda dalam portofolio-nya dalam waktu bersamaan.
4.
Konflik Geopolitik
Harga Emas terkenal meroket ke $850
pada tahun 1980 saat Uni Soviet menginvasi Afghanistan, dan di saat yang
bersamaan terjadi krisis penyanderaan di Kedubes AS di Tehran, Iran. Kenaikan
harga Emas ke $1,920 pada tahun 2011 terjadi saat sejumlah konflik geopolitik
mewarnai Dunia. Konflik-konflik tahun 2011 itu diantaranya adalah beberapa
revolusi Arab Spring berubah menjadi perang saudara, kejatuhan ekonomi Yunani,
dan terjadi kerusuhan parah di Inggris.
Namun walau para spekulator yang memperdagangkan derivatif Emas sering mendorong harga Emas naik saat konflik geopolitik terjadi, pergerakan harga yang disebabkan oleh hal-hal seperti itu biasanya hanya sebentar saja. Sebagai contoh, harga Emas naik 12 persen di dua minggu pertama krisis Falkland tahun 1982, tetapi tren harga tetap bearish, dan di bulan berikutnya malah merosot ke titik terendah dalam tiga tahun.
Namun walau para spekulator yang memperdagangkan derivatif Emas sering mendorong harga Emas naik saat konflik geopolitik terjadi, pergerakan harga yang disebabkan oleh hal-hal seperti itu biasanya hanya sebentar saja. Sebagai contoh, harga Emas naik 12 persen di dua minggu pertama krisis Falkland tahun 1982, tetapi tren harga tetap bearish, dan di bulan berikutnya malah merosot ke titik terendah dalam tiga tahun.
5.
Dolar AS
Sebagaimana komoditas hasil tambang
lainnya, harga Emas dikutip dalam Dolar AS. Namun itu tidak selalu berarti
bahwa kalau Dolar AS melemah, maka harga Emas menguat. Secara historis,
kemungkinan hal itu hanya terjadi hanya tercatat sebanyak 60%.
Apalagi, ketika dibandingkan dengan harga Emas dalam mata uang lain, maka pergerakannya akan berbeda. Dalam 27 bulan sejak tahun 2004, misalnya, harga Emas dalam Poundsterling telah naik lebih dari 5 persen; dan selama 21 bulan diantaranya, Dolar AS juga menguat terhadap Pound.
Apalagi, ketika dibandingkan dengan harga Emas dalam mata uang lain, maka pergerakannya akan berbeda. Dalam 27 bulan sejak tahun 2004, misalnya, harga Emas dalam Poundsterling telah naik lebih dari 5 persen; dan selama 21 bulan diantaranya, Dolar AS juga menguat terhadap Pound.
6.
Harga Minyak
Karena populernya anggapan yang
menghubungkan harga Emas dengan konflik geopolitik, maka banyak yang
mengasumsikan bahwa harga Emas dan Minyak bergerak searah di saat yang
bersamaan. Ya, memang benar bahwa harga Minyak lebih sering bergerak bersamaan
dengan harga Emas daripada Pasar Saham atau Tingkat Suku Bunga. Sejak tahun
1986, dalam 60% kesempatan, harga Emas bergerak bersama harga Minyak.
Namun, ada pengecualian. Saat krisis finansial terjadi, harga Minyak Mentah Dunia merosot 80% pada paruh kedua tahun 2008, sehingga dalam 10 tahun terakhir ini harganya hanya naik 140 persen. Sebaliknya, emas hanya merosot sebentar, lalu langsung meroket lagi, dan tercatat telah naik 235% dalam kurun waktu 10 tahun hingga Juli 2014.
Namun, ada pengecualian. Saat krisis finansial terjadi, harga Minyak Mentah Dunia merosot 80% pada paruh kedua tahun 2008, sehingga dalam 10 tahun terakhir ini harganya hanya naik 140 persen. Sebaliknya, emas hanya merosot sebentar, lalu langsung meroket lagi, dan tercatat telah naik 235% dalam kurun waktu 10 tahun hingga Juli 2014.
7.
Permintaan Pasar Asia
Ketika harga Emas turun 30 persen
terhadap semua mata uang Dunia di tahun 2013, masyarakat China menjadi
pemborong Emas terbesar di Dunia. Saat harga Emas kembali meningkat di awal
tahun 2014, permintaan Emas dari China turun 20% dibandingkan dengan periode
yang sama tahun sebelumnya.
Karena itu, harga Emas sering dikatakan naik saat permintaan pasar Asia meningkat. Namun kalau kita cermati lagi, permintaan pasar Asia lebih cenderung mengikuti pergerakan harga, bukan menentukan harga. Buktinya, harga Emas terjun ke level rendah tiga tahun pada musim semi tahun 2013, tepat ketika India mencatat impor Emas terbesarnya, padahal India saat itu adalah sumber permintaan Emas terbesar Dunia (sekarang rekornya dipegang China).
Hal ini karena harga Emas masa kini tidak lagi dikendalikan oleh permintaan Emas fisik. Orang-orang yang menentukan harga Emas justru investor yang menjual aset investasi lain seperti Saham atau Properti, lalu dengan dana yang didapat dari penjualan itu membeli Emas di pasar komoditas berjangka. Faktor itulah yang telah mendorong kenaikan harga emas pada tahun 1970an dan 2000an.
Kalau ketujuh faktor diatas tidak menentukan pergerakan harga Emas, lalu apa yang menentukan? Yang menggerakkan harga Emas adalah kombinasi dari beberapa faktor diatas, bukan hanya salah satu saja.
Selain itu, penurunan atau kenaikan harga Emas dalam jangka panjang cenderung merefleksikan kondisi aset finansial lain yang biasanya lebih menguntungkan. Masyarakat memandang Emas sebagai salah satu bentuk "asuransi", sedangkan "harga asuransi" adalah paling tinggi saat kita paling membutuhkannya. Artinya, harga Emas akan semakin naik dalam jangka panjang jika prospek aset-aset lain memburuk. Ketika krisis finansial yang lalu mengagetkan pasar finansial, para pemilik Emas dan investasi emas mereka pun aman-aman saja.
Dialihbahasakan dari tulisan Kepala Riset BullionVault, Adrian Ash, di www.telegraph.co.uk
Karena itu, harga Emas sering dikatakan naik saat permintaan pasar Asia meningkat. Namun kalau kita cermati lagi, permintaan pasar Asia lebih cenderung mengikuti pergerakan harga, bukan menentukan harga. Buktinya, harga Emas terjun ke level rendah tiga tahun pada musim semi tahun 2013, tepat ketika India mencatat impor Emas terbesarnya, padahal India saat itu adalah sumber permintaan Emas terbesar Dunia (sekarang rekornya dipegang China).
Hal ini karena harga Emas masa kini tidak lagi dikendalikan oleh permintaan Emas fisik. Orang-orang yang menentukan harga Emas justru investor yang menjual aset investasi lain seperti Saham atau Properti, lalu dengan dana yang didapat dari penjualan itu membeli Emas di pasar komoditas berjangka. Faktor itulah yang telah mendorong kenaikan harga emas pada tahun 1970an dan 2000an.
Kalau ketujuh faktor diatas tidak menentukan pergerakan harga Emas, lalu apa yang menentukan? Yang menggerakkan harga Emas adalah kombinasi dari beberapa faktor diatas, bukan hanya salah satu saja.
Selain itu, penurunan atau kenaikan harga Emas dalam jangka panjang cenderung merefleksikan kondisi aset finansial lain yang biasanya lebih menguntungkan. Masyarakat memandang Emas sebagai salah satu bentuk "asuransi", sedangkan "harga asuransi" adalah paling tinggi saat kita paling membutuhkannya. Artinya, harga Emas akan semakin naik dalam jangka panjang jika prospek aset-aset lain memburuk. Ketika krisis finansial yang lalu mengagetkan pasar finansial, para pemilik Emas dan investasi emas mereka pun aman-aman saja.
Dialihbahasakan dari tulisan Kepala Riset BullionVault, Adrian Ash, di www.telegraph.co.uk
Tuesday, 2 September 2014
8 ALASAN KITA HARUS SEMANGAT MENJEMPUT REJEKI
- Mengetahui kesehatan kondisi keuangan keluarga.
- Perlindungan terhadap risiko keuangan keluarga.
- Melunasi utang-utang konsumtif dan mengelola utang.
- Mendanai biaya pendidikan anak.
- Mempersiapkan dana hari tua.
- Mendanai pembelian rumah dan kendaraan.
- Mendanai tujuan-tujuan keuangan, seperti perjalanan ibadah.
- Mewariskan kekayaan kepada generasi selanjutnya.
KEBAIKAN ATAU KEPENTINGAN
Wanita tua itu sedang menikmati makanannya ketika saya
berdiri tak jauh darinya. Ia menoleh dan menyadari bahwa saya sedang
mencari tempat di restoran tersebut untuk menikmati makanan bersama
keluarga. Wanita itu tahu bahwa saya kesulitan menemukan tempat untuk
kami berlima. Ia pun tersenyum kepada saya dan berkata dalam bahasa yang
tidak saya mengerti – saat itu kami sekeluarga sedang berada di Hong
Kong – mempersilakan saya duduk, kemudian membawa nampannya sendiri dan
pindah ke tempat duduk yang lain, yang hanya mempunyai dua kursi tak
jauh dari situ. Saya tersenyum, menganggukkan kepala seraya mengucapkan
terima kasih kepadanya.
Pembaca yang budiman, kejadian tersebut memang sangat
sederhana, tetapi ada pelajaran penting yang dapat kita ambil di
dalamnya: kebaikan. Wanita tua tadi sedang mempraktikkan kebaikan yang
tulus dan tanpa syarat kepada orang yang tak dikenalnya.
Sesungguhnya, pengalaman serupa sering saya alami di
berbagai tempat makan di Jakarta. Ketika akhir pekan, mal dan pusat
perbelanjaan dipadati pengunjung dan salah satu kesulitan yang sering
saya alami adalah ketika akan menikmati makanan di restoran maupun food court.
Sering saya mendapati seluruh tempat terisi penuh, tetapi saya belum
pernah menemukan ada orang yang bersedia pindah ke tempat duduk dengan
kursi yang lebih sedikit untuk memberikan kesempatan pada rombongan yang
lebih besar duduk di sana. Yang lebih sering saya alami justru adalah
orang-orang yang benar-benar sadar bahwa ada keluarga lain yang menunggu
giliran dan berdiri di dekat mereka, tetapi malah berlama-lama
mengobrol padahal mereka sudah selesai menikmati makanan. Bahkan,
beberapa di antara mereka sempat melirik kami yang berdiri tak jauh dari
mereka sambil meneruskan percakapan mereka seolah-olah sama sekali
tidak melihat kami berdiri.
Pembaca yang budiman, kebaikan memang sesuatu yang tak
mudah. Kebanyakan dari kita melakukan kebaikan ketika mempunyai
kepentingan. Kita melakukan kebaikan ketika membutuhkan bantuan orang
lain. Kita berbuat baik ketika mengharapkan sesuatu yang lebih besar.
Kita tidak berbuat baik kepada orang-orang ketika kita tidak memiliki
kepentingan terhadap mereka. Kalau demikian, apakah perbuatan baik
tersebut sungguh-sungguh perbuatan baik?
Di sinilah sesungguhnya perbedaan antara kebaikan dan
kepentingan. Orang yang baik senantiasa berbuat baik kepada siapa pun
terlepas dari konteks dan kepentingan apa pun. Namun ketika kebaikan
tidak dilakukan secara konsisten, itulah yang disebut dengan
kepentingan. Kita berbuat baik pada orang tertentu tetapi tidak
melakukan kebaikan pada orang yang lain. Ini adalah kepentingan. Jadi,
definisi kepentingan adalah kebaikan yang tidak konsisten.
Kepentingan kini telah menjadi kata kunci dalam bisnis
dan politik. Hampir tidak ada bisnis yang dijalankan tanpa kepentingan.
Dalam politik, apalagi. Bukankah jargon yang terkenal dalam politik
adalah “Tidak ada musuh yang abadi, tidak ada teman yang sejati. Yang
ada hanyalah kepentingan yang abadi”?
Kepentingan dengan demikian telah menjadi Tuhan, sesuatu
yang dikejar orang selama ini. Dan ketika hidup semata-mata dalam
kepentingan, kita sesungguhnya tidak berbeda dari hewan. Dalam
kepentingan tidak ada kebaikan, tidak ada spiritualitas. Segala sesuatu
bersumber dan berfokus pada diri sendiri. Hal ini tentu saja mereduksi
hakikat kemanusiaan kita dari makhluk spiritual menjadi makhluk fisik.
Maka, tak aneh kalau sebutan kita adalah sebagai hewan ekonomi, hewan
politik, dan sebagainya.
Ada beberapa perbedaan antara kebaikan dan kepentingan.
Pertama, kebaikan sesungguhnya adalah pemberian yang berdasarkan cinta,
sementara kepentingan adalah pemberian yang didasarkan pada keinginan
untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi. Ketika kita memberi
berdasarkan cinta, kita akan melakukan hal yang sama untuk semua orang.
Namun kalau kita memberi atas dasar kepentingan, kita akan
membeda-bedakan perlakuan kita kepada satu orang dengan orang yang lain.
Kepada orang-orang yang berpotensi memberikan keuntungan yang banyak,
kita akan memberikan yang terbaik untuk mereka, tetapi tidak demikianlah
perlakuan kita kepada orang-orang yang tak berpotensi menguntungkan
kita di masa depan.
Dengan demikian, fokus kepentingan sesungguhnya hanyalah
diri kita sendiri, sementara fokus kebaikan adalah kepentingan orang
lain. Dan di sinilah terletak keindahannya, ketika kita melayani orang
lain dengan tulus, sesungguhnya kita sendiri sedang mendapatkan
pelayanan terindah yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata yang
paling canggih sekalipun.
Kedua, bagi orang-orang yang baik berlaku rumus
“kebaikan mengalahkan kepentingan”, sementara bagi orang-orang yang
berparadigma transaksional berlaku rumus “kepentingan mengalahkan
kebaikan”. Orang yang baik akan melakukan kebaikan kepada siapa pun,
termasuk kepada orang-orang yang tidak berpotensi memberikan keuntungan
atau menimbulkan bahaya baginya. Ketika berbuat baik, ia tidak memilah
dan memilih orang lain dengan menggunakan kacamata kepentingan, karena
baginya berbuat baik adalah perwujudan rasa cinta kepada sesama. Karena
itu, ia juga berbuat baik kepada orang-orang yang memiliki posisi lebih
lemah dari dirinya, kepada orang-orang yang berada di bawah
kekuasaannya.
Ketiga, ciri-ciri orang yang baik adalah berbuat
kebaikan secara spontan tanpa berpikir terlalu jauh. Spontan yang saya
maksud di sini bukanlah dalam konteks perilaku yang reaktif, tetapi
perilaku yang selalu mengedepankan kebaikan dalam bentuk tindakan yang
spontan dan tanpa pamrih. Ini berbeda dari orang yang berpikir
kepentingan. Dalam melakukan kebaikan mereka tidak bisa spontan, tetapi
harus berpikir dulu masak-masak, serta mengkalkulasi manfaat dan
biayanya, untung dan ruginya.
Ngomong-ngomong, apakah Anda orang yang spontan ketika melakukan kebaikan?
Arvan Pradiansyah
Happiness Inspirer Pertama di Indonesia
Managing Director Institute of Leadership & Life Management (www.ilm.co.id)
Follow @arvanpra
www.arvanpradiansyah.com
Happiness Inspirer Pertama di Indonesia
Managing Director Institute of Leadership & Life Management (www.ilm.co.id)
Follow @arvanpra
www.arvanpradiansyah.com
*) Penulis bestseller The 7 Laws of Happines & narasumber talkshow Smart Happiness di SmartFM Network.
Subscribe to:
Posts (Atom)



